Senin, 26 November 2018

Contoh tulisan Esai


Novel Online Merasuk Generasi Muda
Pernahkan anda mendengar istilah generasi tunduk ?
Istilah tersebut sudah tidak asing lagi ditelinga.
Tentu. Smartphone sipelakunya.
Smartphone sendiri kini dapat disihir bagaikan komputer cilik yang dapat digunakan dan dibawa kemanapun. Melihat generasi muda zaman sekarang mulai dari anak sekolah masa kini menghabiskan waktunya hanya untuk tunduk dan menggenggam smartphonenya selama lebih dari 10 jam seminggu dan 56% menghabiskan waktunya disosial media.
‌Anak muda sekarang ogah pegang buku. Apalagi bawa buku kemana-mana. Kalau kata anak zaman now "Gak zaman kelezz"
Mereka beranggapan buku itu gak praktis dan instan. Bahkan karenanya peminat-peminat sastra sungguh sangat berkurang diera milenial saat ini, terlebih penggemar novel. Entah apa yang terjadi pada anak zaman sekarang, benar berbeda sekali pada tahun 90-an. Dimana buku layaknya sebagai Tuhan bagi kami. Karena dari buku banyak mendapatkan ilmu dan pengetahuan.
Siapa yang harus disalahkan jika sudah begini ?
Korbannya adalah guru. Guru yang mengajar dan mendidik generasi muda saat ini banyak  menghadapi tantangan pembelajaran yang harus relevan dengan siswa. Peran teknologi yang dapat mengalihkan perhatian. Generasi milenial terlalu banyak bekerja. Beberapa generasi milenial cenderung banyak yang putus bersekolah. Apabila pendidikan formal tidak menarik milenial beralih pada kelompok yang memberikan pendidikan keterampilan.
Kenapa anak zaman sekarang begitu dibius segala yang berbau online menjadi peralihan teknologi dari baca buku cetak menjadi baca buku online ?
Saya pernah mendengar percakapan beberapa siswa dipinggir jalan yang mengatakan masa remaja adalah masa pencarian jati diri.  Generasi milenial adalah generasi yang mudah baper (bawa perasaan) dan narsis. Perkembangan teknologi saat ini sangat cepat dikamar melalui media sosial yang berkembang pesat. Memanfaatkan aplikasi seperti line, Instagram, dan akun lainnya mereka kreatif memasarkan sekaligus menyediakan buku dengan kemasan yang menarik, elegan, dan menjual. Baik dari segi konten, ketersediaan, harganya, dan banyak kemudahan. Kecanggihan smartphone membuat generasi muda lebih memilih untuk terus memainkan smartphone dibandingkan harus membaca buku. Buku seharga Rp 40.000,00 dianggap lebih mahal dibandingkan untuk membeli paket data seharga Rp 60.000,00. Lebih memilih paket dari pada membeli buku.
Ancaman Era MEA yang menjadi pemicu untuk menjadi pribadi yang cerdas dengan gemar membaca buku justru menjadi tidak berarti. Karena mereka juga dituntut untuk terus berkembang. Apabila tidak berkembang maka akan ketinggalan banyak hal.
Semua kembali pada masing-masing individu untuk memilih membaca buku cetak atau membaca online.
Sastra seharusnya menjadi bagian dan gaya hidup remaja karena sastra seharusnya menjadi bagiannya dan hidup nyata dan kehidupan sehari-hari dengan segala tetek bengkel persoalannya yang minyak cengeng, menyebalkan, dan tidak mutu. Gaya hidup remaja dan media yang berkembang saat ini menjadikan peminat sastra novel khususnya dan juga buku lainnya menjadi semakin berkurang.
Peralihan teknologi dan baca buku cetak hingga buku online pada generasi muda menjadikan minat baca sastra menurun sungguh menyedihkan.
Menarik sekali perbincangan bersama senja disore itu. Sekarang rasanya saya semakin mencintai dia.